Sabtu, 10 April 2010

Komunikasi Bisnis

1. Komunikasi Dalam Bisnis

Memahami Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh dapat mengungkapkan perasaan Anda yang sesungguhnya. Oleh karena itu pastikan bahasa tubuh anda sesuai dengan kata-kata yang anda ucapkan.

Sikap Tubuh

Sikap duduk Anda mempengaruhi penilaian orang terhadap Anda.ini juga sangat berpengaruh pada kesehatan anda sendiri.

Memberi Kesan yang Baik Saat Duduk

Yang harus Diperhatikan saat Anda duduk

Disebelah Mana tamu Anda duduk

Berjalan yang Baik

Berdiri Sempurna


2. Kepekaan Terhadap Lingkungan Sosial

Ada yang mengibaratkan relasi media massa dan masyarakat kita pada saat ini seperti bermain. Begitu tutupnya terkuak, bermunculan kasus-kasus yang barangkali tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kesannya, mereka seperti berebut keluar untuk meminta perhatian dan kita dibuat kewalahan menghadapinya.

Ketika publik ramai membicarakan suap di lembaga penegak hukum, misalnya, lalu muncul satu per satu kasus yang mengusik rasa keadilan kita. Awalnya, berita proses peradilan kasus-kasus pencurian sepele yang melibatkan wong cilik dari berbagai daerah. Puncaknya, kita dikejutkan fasilitas supermewah bagi seorang terpidana kasus suap. Kini, terbetik pula berita rekayasa penanganan kasus narkoba yang lagi-lagi melibatkan wong cilik yang tak punya akses hukum.Belum selesai dengan ulah oknum penegak hukum, kita dikejutkan oleh heboh facebook. Bermunculan orangtua melapor dan menengarai anaknya hilang akibat kabur atau dibawa kabur teman facebook. Model pacaran via internet pun kemudian sampai harus berakhir di kantor polisi. Geger plagiat atau penjiplakan karya ilmiah menjadi isu berikutnya. Setelah seorang professor muda di sebuah PTN Bandung kedapatan menjiplak artikel, bermunculan kasus-kasus serupa di daerah lain. Bisnis jasa bimbingan pembuatan skripsi, tesis, hingga disertasi yang sudah bertahun-tahun hidup di sekeliling kita tiba-tiba menjadi barang haram.

Di bidang politik juga terjadi kecenderungan serupa. Setelah rakyat kenyang dibombardir oleh tayangan reality show ala Pansus Century yang membongkar berbagai kebobrokan seputar bailout bank bermasalah, tiba-tiba kini bermunculan kasus-kasus lain yang (kebetulan?) melibatkan sejumlah petinggi atau anggota partai. Rakyat hanya bisa mengelus dada, menelan ludah, mungkin sambil menggumam begitu bobrokkah negeri ini?Akhir-akhir ini, kita juga disuguhi secara beruntun berita-berita wong cilik yang tidak memiliki akses kesehatan. Balita-balita dengan kelainan hati, bocah-bocah penderita hydrocephalus, remaja tak punya anus, bayi tanpa tulang tengkorak atas, dan sebagainya, adalah kasus-kasus di mana mereka tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik.

Di Bekasi, yang jaraknya hanya sepelemparan baru dari Jakarta, terbetik kabar seorang balita perempuan penderita .inn- selama dua tahun harus dipasung seharian tiap kali ditinggal bapaknya mencari makan dengan menjadi pengamen jalanan. Sempat jadi urusan polisi, sebelum si bapak dibebaskan karena diyakini belenggu kemiskinan ada di balik perlakuan itu.Kasus-kasus itu mencuat, menggegerkan, dan menyesakkan dada kita lantaran di lingkungan terdekat, kita tak lagi punya cukup kepekaan sosial untuk menangkap penderitaan-penderitaan seperti itu. Abai dengan beragam alasan seolah terlanjur diterima sebagai keniscayaan hidup di kota besar. Aparat desa/kelurahan, sejak pengurus RT/RW hingga Kades/Pak Lurah, mestinya cukup peka merasakan kondisi warga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar