Selasa, 22 Desember 2009

Pengaruh Krisis Global Terhadap Ekonomi Pembangunan


Kondisi ekonomi:
1. Krisis keuangan di AS sangat sangat sangat parah. Ini sistem yang hancur.

2. Krisis itu telah menjalar ke seluruh dunia, sekali lagi tidak ada yang selamat. Kalo ada rumor yang mengatakan bahwa negara ini bakal kuat, bakal jadi pemimpin, jangan percaya.

3. Banyak negara sudah memasuki masa resesi, seperti Inggris dan Singapura. Sebenarnya banyak sekali negara sudah masuk resesi tapi secara definisi
belum karena dalam definisi ekonomi suatu negara dinyatakan resesi bila pertumbuhan ekonominya negatif, kuartal berturut turut. Jadi yang tinggal di Singapore, Inggris dan US benar2 harus melakukan perubahan cara hidup mulai sekarang.

4. Krisis ekonomi sudah menjalar ke sektor real artinya akan kita rasakan.
Sekarang sebenarnya sudah tapi tidak banyak orang awam yang benar - benar sadar dampaknya. Ekspor kita sudah melambat, harga2 komoditas kita sudah jatuh,
eksportir2 kita sudah memecati karyawan, impor ilegal sudah masuk. Pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif.

5. Sektor sektor yang paling dulu terkena imbasnya adalah properti, manufaktur, pertambangan, perkebunan.. ..sebenarnya sekarang udah terasa. Jadi tahun depan jangan harapkan perusahaan kalian kasi bonus besar lagi atau kasi kenaikan gaji tinggi lagi, Artinya : Semua orang, semua negara sedang dalam perang memperebutkan cash. Siapa yang punya cash nantinya punya kemampuan lebih untuk bertahan.

DAMPAK DI INDONESIA

Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

Seperti pada tahun 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.

Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Dari sini kita tahu bahwa dampak krisis moneter di Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sector lain yang lebih rumit. Berikut akan dijelaskan dengan singkat.

Rupiah Melemah

Akibat krisis moneter di Amerika Serikat, nilai tukar rupiah melemah dan sempat menembus Rp 9.860 per USD. Di pasar antarbank, rupiah bahkan sempat menembus Rp 10.000 per USD. Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih sejalan dengan beberapa mata uang lainnya.

Berbeda dengan krisis 1997, BI kini juga telah mengetahui pencatatan valas perbankan. BI juga tetap waspada dan terus menjaga agar tidak terjadi pergerakan gejolak yang terlalu besar. BI sebagai bank sentral meminta pasar tidak panik menghadapi situasi saat ini.

Turbulensi di pasar finansial saat ini terjadi di seluruh dunia. Bank sentral akan terus memantau perkembangan ekonomi global, dan berusaha agar dampaknya bisa seminimal mungkin.

Senin, 23 November 2009

Pengaruh Sidang APEC di Singapura

1. Pengaruh Sidang APEC

APEC Fokus Pemulihan Ekonomi

SINGAPURA - Sidang tahunan forum kerja sama negara-negara Asia Pasifik (APEC) 2009 menempatkan pemulihan ekonomi dari tekanan krisis sebagai fokus utama pertemuan.

Diharapkan, pertemuan bisa membuat resolusi agar perekonomian negara-negara kawasan ini kembali ke zona aman. Data APEC menyebutkan, pertemuan yang akan dihadiri 21 pemimpin negara anggota dan ratusan delegasi dari berbagai kalangan bisnis dan keuangan global, menempatkan pemulihan krisis sebagai isu utama, meski tetap membahas isu-isu perekonomian global lain.

"Sidang tahunan akan memfokuskan penanganan krisis ekonomi, selain isu-isu global lainnya," pernyataan APEC seperti dilaporkan wartawan Seputar Indonesia dari Singapura.

Isu pemulihan menjadi fokus pertemuan tahun ini menyusul adanya harapan perbaikan kondisi perekonomian negara-negara di dunia setelah dihantam krisis sejak beberapa waktu lalu. Terlebih, perbaikan juga baru berlangsung sesaat dan belum sampai pada fase yang benar-benar aman, sehingga dikhawatirkan gagal.

Terkait itu, forum dikabarkan berkomitmen mempertahankan kebijakan stimulus hingga dampak buruk perlambatan ekonomi global betul-betul diredam dan perekonomian global kembali berada dalam zona aman. "Sebab pemulihan ekonomi saat ini belum berada pada pijakan yang kuat," catat data Komunike APEC.

Untuk meredam dampak perlambatan perekonomian global yang telah berlangsung sejak 2008, negara-negara kawasan Asia Pasifik, seperti Amerika Serikat, China,Jepang,dan Indonesia telah menggelontorkan belanja stimulus yang cukup besar. AS, misalnya, telah menggelontorkan belanja stimulus tak kurang dari USD787 miliar dan diyakini telah mendorong penciptaan lapangan kerja 650 ribu hingga satu juta lapangan kerja.

Kendati begitu, paket belanja stimulus negara-negara Asia diyakini lebih besar dari belanja stimulus AS sehingga bisa tetap menjaga kondisi perekonomian kawasan ini jauh lebih baik dibanding AS maupun Eropa. Khusus, paket belanja stimulus Asia terbesar di antaranya disumbangkan China senilai USD585 miliar.

Indonesia mengalokasikan belanja stimulus hingga Rp73,3 triliun atau 1,3 persen PDB, masing-masing berupa stimulus perpajakan dan kepabeanan sebesar Rp56,3 triliun dan sisanya untuk stimulus infrastruktur. Kebijakan ini direncanakan berlanjut hingga tahun 2010 sebagai bagian dari percepatan pemulihan ekonominya.

Selain soal pemulihan ekonomi, forum tahunan APEC juga membahas perbaikan tata kelola pemerintahan negara-negara anggota, isu perubahan iklim, dan penguatan peran lembaga-lembaga keuangan multilateral maupun negara-negara anggota serta persiapan implementasi putusan pertemuan APEC 1994 di Bogor.

Diketahui, dalam pertemuan APEC tersebut disepakati adanya liberalisasi perdagangan dan investasi kawasan Asia Pasifik mulai 2010 bagi negara-negara maju dan 2020 bagi anggota negara berkembang.Tujuannya, meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi kawasan dan memperkuat kerja sama ekonomi kawasan melalui peningkatan volume perdagangan dan investasi.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, dalam sebuah interviu dengan stasiun CNBC seperti dikutip The Business Times berpendapat, pertemuan APEC tahun ini bakal kembali pada fokus ekonomi, pertumbuhan, integrasi regional dan perdagangan bebas?isu-isu yang menyatukan mereka 20 tahun lalu.

Menurut Lee, salah satu implementasi yang masih gagal dilaksanakan APEC adalah liberalisasi perdagangan, seperti termuat dalam Putaran Doha. Guna merealisasikan itu, jelasnya, APEC tahun ini akan mendorong pemerintahan baru AS kembali ke pembicaraan Doha sehingga kebijakan perdagangan yang adil bisa terealisasikan.

"Yang paling penting, AS dengan pemerintahnya yang baru harus melakukan sesuatu agar mau memperluas kapasitas politisnya dan menjadikannya (Putaran Doha) prioritas," ujarnya. Secara umum, melalui pertemuan APEC 2009 diharapkan bisa tercipta strategi baru untuk mereduksi ketidakseimbangan perekonomian akibat krisis keuangan yang sangat berat sejak tahun lalu. Sebab krisis dikhawatirkan makin memperlebar ketidakseimbangan ekonomi antara negara-negara APEC.

Di sisi lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menghadiri forum ini. Selain Presiden, turut menghadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Luar Negeri Raden Muhammad Marty Natalegawa, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Wibowo.

Sejumlah pemimpin negara kawasan Asia Pasifik lain memastikan hadir dalam sidang tahunan ini. Di antaranya seperti Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Presiden China Hu Jintao, Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, dan Perdana Menteri JepangYukio Hayotama.