Jumat, 23 April 2010

Tentang Kepekaan Terhadap Lingkungan Hidup

Lingkungan Hidup

Ini semua berawal dari pengertian mengenai ”lingkungan hidup”. Pengertian salah kaprah mengenai ”lingkungan hidup” selama ini hanyalah sebatas pada makhluk hidup (manusia, binatang dan tumbuhan). Interaksi makhluk hidup dengan makhluk tak hidup jarang dibahas. Padahal lingkungan hidup adalah semua yang ada di Bumi ini, tempat manusia berkembang selama jutaan tahun. Mulai dari struktur tanah, biota yang hidup dalam tanah, angin dan perubahannya, cahaya matahari, asap, air dan perubahan fisiknya, hingga penggundulan hutan, ledakan gunung berapi dan dampaknya, kerusakan terumbu karang, bahkan mencairnya es di kutub. Semua bergabung dalam sebuah komunitas besar yang dinamakan biosfer.

Begitu luasnya cakupan lingkungan hidup sehingga dalam pelajaran di sekolah, pengajar akan dihadapkan pada situasi untuk melihat permasalahan lingkungan hidup hanya pada satu sisi atau sepotong-potong saja. Dibutuhkan kapabilitas lebih bagi tenaga pengajar untuk bisa mengajarkan secara utuh mengenai lingkungan hidup. Ini karena banyaknya disiplin ilmu yang terlibat, selain juga juga kemampuan untuk mengaitkan satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lain, misalkan kimia-fisika-biologi.

Sisi lain adalah perkembangan ilmu yang begitu pesat, dan terutama dipelopori oleh negara-negara maju, sehingga dibutuhkan kemampuan untuk mempelajari informasi terbaru dengan cepat dan mentransfer ilmu tersebut ke siswa. Pesatnya perkembangan ilmu tersebut itulah yang menjadikan bahan ajar di sekolah menjadi tertinggal dari ukuran ideal.

Sementara, permasalahan lingkungan hidup kian nyata dan masif (mulai dari pencemaran dan perubahan iklim) serta tidak kasat mata seperti mutasi virus-virus penyakit.

Kesenjangan itulah yang harusnya diisi dengan kegiatan tambahan sehingga secara keilmuan dapat memahami lingkungan hidup lebih utuh dan secara praksis mampu melakukan kegiatan yang bersifat pelestarian dan penanaman perilaku cinta lingkungan.

Generasi Hijau dan Sekolah Hijau

Nilai-nilai pendidikan yang bersifat menyeluruh yang mengasah aspek motorik, kognitif, dan afektif, serta mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual berujung pada pembentukan sebuah generasi baru yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Generasi baru yang menghadapi tantangan dan lingkungan yang berbeda dan bahkan lebih keras.

Pada situasi dimana kondisi lingkungan tidak ramah lagi, tumbuhnya Generasi Hijau (Green Generation) menjadi penting. Generasi hijau inilah secara internasional dikampanyekan pada tahun 2009 ini. Prinsipnya adalah memperjuangkan reduksi emisi gas rumah kaca (GRK) pada masa mendatang dengan menggunakan energi ramah lingkungan yang menggantikan bahan bakar fosil (seperti BBM dan batu bara), komitmen setiap individu untuk menggunakan energi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab, menciptakan ekonomi hijau (Green Economy) yang dapat mengangkat masyarakat dari kemiskinan dengan memberikan peluang pekerjaan hijau (green jobs) dan mengubah sistem pendidikan global menjadi sistem pendidikan hijau (green education).

Generasi hijau akan terwujud bila ada kristalisasi perilaku individu dalam lingkup yang lebih luas yaitu komunitas, baik formal (institusi pendidikan) maupun non formal ( institusi masyarakat).

Dari catatan sejarah, terbukti bahwa perubahan dan munculnya sebuah generasi diawali dari dunia pendidikan. Karenanya penting menerapkan prinsip-prinsip lingkungan hidup pada lingkungan pendidikan dalam wahana Sekolah Hijau (green school).

Konflik Komunikasi dalam Bisnis


a. Everet M. Rogers:
b. Bernard dan Gery

- Berkomunikasi sesuai tingkatan bahasa para pendengarnya.
Seorang pedagang makanan yang hanya lulusan SMP tentunya akan kesulitan mengerti pembicaraan seorang sarjana teknik yang berbicara menggunakan istilah-istilah tekniknya.
- Mengerti keinginan arah pembicaraan dari para pendengarnya,
Sekelompok remaja SMA tentunya wajar jika tidak tertarik pada pembicaraan mengenai permasalahan bagaimana merawat dan mendidik balita yang disampaikan seorang ibu rumah tangga.
- Mengerti kelas sosial para pendengarnya.
Sekelompok petani didesa tentunya tidak mengerti dan tidak tertarik pada pembicaraan seorang pialang mengenai perdagangan saham.
- Memahami latar belakang serta nilai-nilai yang dipegang teguh para pendengarnya.
Seorang ahli presentasipun akan sangat kesulitan menembus dan merubah kekeras-kepalaan pendapat seorang individu apalagi kelompok masyarakat yang mengkonsumsi makanan pokok nasi menjadi gandum, kentang atau lainnya walaupun didukung “bukti-bukti dan alasan yang kuat dan benar”
- Memahami Adat Kebiasaan Atau Kultural
Setiap kultur mempunyai aturan komunikasi sendiri-sendiri. Aturan ini menetapkan mana yang patut dan mana yang tidak patut. Pada beberapa kultur, orang menunjukkan rasa hormat dengan menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Dalam kultur lain, penghindaran kontak mata seperti ini dianggap mengisyaratkan ketiadaan minat
“Adalah pendengar yang menentukan bagaimana sebaiknya sebuah pesan dimengerti”. Bagaimana dan seperti apa sudut maupun cara pandang seseorang terhadap apa yang didengar, dilihat atau dimengerti sangatlah di bentuk oleh latar belakang dan pengalaman pribadi perorangan.

Cara Mengatasi Konflik Dalam Bisnis


Didalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan konflik antar individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah kominikasi yang kurang baik. Sehingga cara mengatasi konflik dalam perusahaan harus benar-benar dipahami management inti dari perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul.

Permasalahan atau konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan yang terjadi karena masalah komunikasi harus di antisipasi dengan baik dan dengan system yang terstruktur. Karena jika masalah komunikasi antara atasan dan bawahan terjadi bias-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demo.

Sehingga untuk mensiasati masalah ini bias dilakukan dengan berbagai cara.

1. Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker.

2. Buat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancer dan harmonis, misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan mengurangi masalah di lapangan

3. Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan masalah dalam hal komunikasi

Biasanya masalah timbul karena lingkungan yang kurang kondusif di suatu perusahaan. Misalnya, kondisi cahaya yang kurang, atau sirkulasi yang kurang baik, dan temperature ruangan yang tinggi sangat mungkin untuk meningkatkan emosi seseorang, jadi kondisi dari lingkungan juga harus di perhatikan

Konflik dalam perusahaan juga sering terjadi antar karyawan, hal ini biasanya terjadi karena masalah diluar perusahaan, misalnya tersinggung karena ejekan, masalah ide yang dicuri, dan senioritas. Perusahaan yang baik harus bisa menghilangkan masalah senioritas dalam perusahaan. Hal ini dapat meminimalisir masalah yang akan timbul, kerena dengan suasanya yang harmonis dan akrab maka masalah akan sulit untuk muncul.

Sabtu, 10 April 2010

Komunikasi Bisnis

1. Komunikasi Dalam Bisnis

Memahami Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh dapat mengungkapkan perasaan Anda yang sesungguhnya. Oleh karena itu pastikan bahasa tubuh anda sesuai dengan kata-kata yang anda ucapkan.

Sikap Tubuh

Sikap duduk Anda mempengaruhi penilaian orang terhadap Anda.ini juga sangat berpengaruh pada kesehatan anda sendiri.

Memberi Kesan yang Baik Saat Duduk

Yang harus Diperhatikan saat Anda duduk

Disebelah Mana tamu Anda duduk

Berjalan yang Baik

Berdiri Sempurna


2. Kepekaan Terhadap Lingkungan Sosial

Ada yang mengibaratkan relasi media massa dan masyarakat kita pada saat ini seperti bermain. Begitu tutupnya terkuak, bermunculan kasus-kasus yang barangkali tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kesannya, mereka seperti berebut keluar untuk meminta perhatian dan kita dibuat kewalahan menghadapinya.

Ketika publik ramai membicarakan suap di lembaga penegak hukum, misalnya, lalu muncul satu per satu kasus yang mengusik rasa keadilan kita. Awalnya, berita proses peradilan kasus-kasus pencurian sepele yang melibatkan wong cilik dari berbagai daerah. Puncaknya, kita dikejutkan fasilitas supermewah bagi seorang terpidana kasus suap. Kini, terbetik pula berita rekayasa penanganan kasus narkoba yang lagi-lagi melibatkan wong cilik yang tak punya akses hukum.Belum selesai dengan ulah oknum penegak hukum, kita dikejutkan oleh heboh facebook. Bermunculan orangtua melapor dan menengarai anaknya hilang akibat kabur atau dibawa kabur teman facebook. Model pacaran via internet pun kemudian sampai harus berakhir di kantor polisi. Geger plagiat atau penjiplakan karya ilmiah menjadi isu berikutnya. Setelah seorang professor muda di sebuah PTN Bandung kedapatan menjiplak artikel, bermunculan kasus-kasus serupa di daerah lain. Bisnis jasa bimbingan pembuatan skripsi, tesis, hingga disertasi yang sudah bertahun-tahun hidup di sekeliling kita tiba-tiba menjadi barang haram.

Di bidang politik juga terjadi kecenderungan serupa. Setelah rakyat kenyang dibombardir oleh tayangan reality show ala Pansus Century yang membongkar berbagai kebobrokan seputar bailout bank bermasalah, tiba-tiba kini bermunculan kasus-kasus lain yang (kebetulan?) melibatkan sejumlah petinggi atau anggota partai. Rakyat hanya bisa mengelus dada, menelan ludah, mungkin sambil menggumam begitu bobrokkah negeri ini?Akhir-akhir ini, kita juga disuguhi secara beruntun berita-berita wong cilik yang tidak memiliki akses kesehatan. Balita-balita dengan kelainan hati, bocah-bocah penderita hydrocephalus, remaja tak punya anus, bayi tanpa tulang tengkorak atas, dan sebagainya, adalah kasus-kasus di mana mereka tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik.

Di Bekasi, yang jaraknya hanya sepelemparan baru dari Jakarta, terbetik kabar seorang balita perempuan penderita .inn- selama dua tahun harus dipasung seharian tiap kali ditinggal bapaknya mencari makan dengan menjadi pengamen jalanan. Sempat jadi urusan polisi, sebelum si bapak dibebaskan karena diyakini belenggu kemiskinan ada di balik perlakuan itu.Kasus-kasus itu mencuat, menggegerkan, dan menyesakkan dada kita lantaran di lingkungan terdekat, kita tak lagi punya cukup kepekaan sosial untuk menangkap penderitaan-penderitaan seperti itu. Abai dengan beragam alasan seolah terlanjur diterima sebagai keniscayaan hidup di kota besar. Aparat desa/kelurahan, sejak pengurus RT/RW hingga Kades/Pak Lurah, mestinya cukup peka merasakan kondisi warga.